Bantuan Asuransi Premi Nelayan (BAPN) Kab. Banjar

Usaha perikanan tangkap adalah usaha yang mempunyai tingkat resiko tingkat tinggi baik dari segi finansial maupun tingkat kecelakaan kerja. Dalam upaya untuk memberikan perlindungan kepada nelayan melalui jasa asuransi, maka perlu diadakan sosialisasi program ini kepada para nelayan serta kerjasama dengan pihak-pihak terkait. Dengan demikian maka secara bertahap manfaat jasa asuransi akan dapat dirasakan sebagai suatu kebutuhan bagi para nelayan di Kabupaten Banjar.


Sekretaris Dinas Perikanan Kabupaten Banjar menyerahkan Sebanyak 62 Bantuan Premi Asuransi Nelayan (BPAN) Kepada nelayan di Desa Keliling Benteng ilir Kecamatan Sungai Tabuk.

Kegiatan Penyerahan Bantuan Premi Asuransi Nelayan (BPAN) yang dilakukan oleh Sekretaris Dinas Perikanan Kabupaten Banjar dan didampingi oleh Bidang Perikanan Tangkap, dilaksanakan pada Hari Jum’at Tanggal 13 September 2019. Bertempat di Kantor Pembakal Desa Keliling Benteng ilir Kecamatan Sungai Tabuk. Sekretaris Dinas Perikanan Kabupaten Banjar menyerahkan Sebanyak 10 Bantuan Premi Asuransi Nelayan (BPAN) Kepada nelayan di Desa Keliling Benteng ilir Kecamatan Sungai Tabuk, Selain Desa Keliling Benteng ilir ada beberapa Desa yang Juga mendapatkan Bantuan Premi Asuransi Nelayan (BPAN) yakni : Desa Tajau Landung 22 orang, Desa Sei. Bakung 9 orang, Desa Sei. Bangkal 2 orang, Desa Sei. Pinang Lama 13 orang, Desa Sei. Tabuk Keramat 4 orang dan Desa Melayu sebanyak 2 orang. Jumlah Bantuan Premi Asuransi Nelayan (BPAN) Kepada nelayan Kabupaten Banjar sebanyak 62 orang.

Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berupaya untuk menjalankan Undang-Undang Republik Indoneisa Nomor 7 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudidaya Ikan dan Petambak Garam. Hal itu diwujudkan  melalui program Bantuan Premi Asuransi Nelayan (BPAN), sebagai salah satu program prioritas KKP yang juga sejalan dengan Nawacita nomor lima yakni meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia.

Meski nelayan sebagai salah satu faktor kunci dalam sektor kelautan dan perikanan, tapi kondisi nelayan Indonesia masih belum dapat dikatakan sejahtera. Usaha nelayan sangat dipengaruhi oleh faktor alam, hal ini mengakibatkan kontiniutas hasil produksi tidak terjamin. Skala usaha nelayan kecil belum efisien dan memiliki produktifitas usaha yang rendah.

Foto bersama Sekretaris Dinas Perikanan saat penyerahan Bantuan Premi Asuransi Nelayan (BPAN)

Selain itu, profesi nelayan memiliki risiko yang cukup tinggi, yang dapat mengancam jiwa dan keselamatan. Saat melakukan kegiatan penangkapan ikan, nelayan seringkali dihadapkan pada cuaca yang tidak bersahabat hingga mengakibatkan kecelakaan, dan seringkali terjadi tabrakan di laut. BPAN dimaksudkan untuk menjamin kegiatan nelayan yang lebih baik dalam usaha penangkapan ikan sehingga hak-hak dan kewajiban nelayan menjadi jelas serta akan terlindungi dalam kegiatan usaha penangkapannya.

Program jaminan perlindungan atas risiko Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam juga telah ditetapkan melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor  18 Tahun 2016. Dengan landasan tersebut, KKP akan terus berupaya mewujudkan kesejahteraan bagi para pelaku utama di sektor kelautan dan perikanan  sebagai salah satu dari tiga pilar utama pembangunan kelautan dan perikanan Indonesia.

You might also like More from author